GIIIPPPPPPPPPPPP
Flora dan Fauna Khas Provinsi Sulawesi Selatan
Pohon Siwalan (Lontar) Flora Identitas
Sulawesi Selatan

Pemanfaatan Pohon Siwalan
Daun Lontar/ Siwalan (Borassus
flabellifer) digunakan sebagai media penulisan naskah lontar dan bahan
kerajinan seperti kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk
pakaian dan Sasando, alat musik tradisional di Timor. Tangkai dan pelepah pohon
Siwalan (Lontar atau Tal) dapat menhasilkan sejenis serat yang baik. Pada masa
silam, serat dari pelepah Lontar cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan
untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat. Kayu
dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna
kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk
membuat perkakas dan barang kerajinan. Dari karangan bunganya (terutama tongkol
bunga betina) dapat disadap untuk menghasilkan nira lontar (legen). Nira
ini dapat diminum langsung sebagai legen (nira) juga dapat dimasak
menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman
beralkohol. Buahnya, terutama yang
muda, banyak dikonsumsi. Biji Lontar yang lunak ini kerap diperdagangkan di
tepi jalan sebagai “buah siwalan” (nungu, bahasa Tamil). Biji siwalan ini
dipotong kotak-kotak kecil untuk bahan campuran minuman es dawet siwalan yang
biasa didapati dijual didaerah pesisir Jawa Timur, Paciran, Tuban. Daging buah yang tua,
yang kekuningan dan berserat, dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih
dahulu. Cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran
penganan atau kue-kue; atau untuk dibuat menjadi selai.
Julang (Rangkong Sulawesi) Fauna Identitas Sulawesi Selatan
Julang atau Rangkong Sulawesi (Aceros
cassidix) adalah spesies burung rangkong dalam Famili Bucerotidae. Burung
ini endemik di
Sulawesi. Di daerah Minahasa. burung ini dikenal dengan nama Burung
Taong. Burung ini memiliki warna mencolok mata, dengan warna tubuh
hitam, paruh kuning emas, dan warna merah mencolok di atas paruhnya, ekor
berwarna putih, warna biru di sekitar mata, kaki kehitaman dan warna leher
biru. Berukuran sangat besar (104 cm), berekor putih dan paruh bertanduk.
Jantan: tanduk merah tua; kepala, leher dan dada bungalan merah-karat. Betina:
kepala dan leher hitam, tanduk kuning lebih kecil. Panjang tubuh dapat
mencapai 100 cm pada jantan, dan 88 cm pada betina. Julang Sulawesi memiliki
tanduk (casque) yang besar di atas paruh, berwarna merah pada jantan dan
kuning pada betina. Paruh berwarna kuning dan memiliki kantung biru pada
tenggorokan. Julang sulawesi menghuni hutan
primer dan hutan rawa. Terkadang ditemukan di hutan sekunder yang
tinggi dan petak hutan yang tersisa dengan lahan pertanian yang luas. Terkadang
pula mengunjungi hutan bakau. Julang Sulawesi biasa terbang di atas dan
sekeliling tajuk dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah, namun terkadang
berkelompok sampai lima puluh individu atau lebih. Ketika terbang sayapnya
berbunyi berisik seperti mesin uap. Julang sulawesi adalah spesies endemik di Pulau Sulawesi dan
beberapa pulau satelit. Burung yng umum dijumpai, menghuni hutan primer
dan hutan rawa. Kadang di hutan sekunder yang tinggi dan petak-petak hutan yang
tersisa dalam lahan budidaya yang luas, juga mengunjungi hutan mangrove. Dari
permukaan laut sampai ketinggian 1100 m kadang sampai 1800 m. Makanannya antara
lain buuah-buahan, serangga, juga telur dan anakan burung. Biasanya mencari
makanan di tajuk atas pohon. Musim berbiak pada Juni-September. Bersarang pada
lubang/ceruk pohon yang besar. Selama mengerami telur, betina tidak keluar dari
sarang, makanan disediakan oleh jantan. Biasanya hanya membesarkan satu ekor
anakan.Sulawesi seperti Pulau Lembeh, Kepulauan Togian, Pulau Muna dan Pulau Butung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar